Hei March ... 😒😒😒😒😒

 πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜–πŸ˜’😭😭

“Hei March …” gumam gadis itu, “Aku menemukannya, aku menemukannya, aku menemukannya,” gumamnya riang seperti anak kecil yang baru saja diberikan semangkuk lolypop.

Namun beberapa menit kemudian raut riang itu berubah sendu. “Setelah ini mau apa?” gumamnya lagi. “Tidak ada yang bisa kulakukan.” Tarikan napas yang panjang itu membuat ia gusar dan seketika buliran air matanya jatuh. Sudah sekian bulan berlalu, ia menanti kabar. Kabar apa saja. Yah, setidaknya ada kabar, kabar apapun dan tentang apapun. Ia tidak menginginkan banyak, hanya kabar. Itu saja.

“Ia nampak baik-baik saja. Itu cukup,” katanya.

Dari layar gawainya, ia dapat melihat potret seseorang yang dirindukan, wajahnya bertambah sendu. Rasanya pengen menyapa, tapi ia khawatir bagaimana jika nanti kehadirannya tidak diinginkan, atau apa dia add pertemanan saja, ah tidak, tidak, tidak … tidak perlu, malah nanti dikira bakal jadi parasit lagi. Berbagai macam pikiran konyol dan penolakan itu menggerayang kembali.

“Dia tidak menginginkan kabar dariku, jadi tidak usah. Intinya, semoga dia selalu baik-baik saja,” gumamnya tersenyum getir.

Hingga dipertengahan malam, dengan wajah pasrah dan tangisan pilu, ia berdoa, “Cukupkan aku dengan apa yang kumiliki. Semoga aku tidak menginginkan apa yang bukan milikku. Cukupkan aku, cukupkan aku, cukupkan aku ! Rabbana zholamna anfusana wa inlam tagfiirlana watarhamna lanakuunanna minal khoosirin.” Hingga waktu subuh itu tiba, tak hentinya ia bermunajat, agar segala perasaan yang begitu meluap bisa terkikis perlahan.

“March … akhir-akhir ini aku takut menginginkan banyak hal. Sangat takut. Jika aku terlalu menginginkan sesuatu, pasti ujungnya bakal kecewa. Kecewa itu sungguh pedih, sakit, sangat sakit,” gumamnya. “Apa yang kita inginkan belum tentu itu yang kita butuhkan, makanya aku sedang berusaha menekan keinginanku itu agar segera lesap.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ecek-ecek me Time

Mari Bertumbuh - On Progress

Tarik Napas ....